Anda di referensikan oleh AMFU
[Pelajari Lebih Lanjut]

Keranjang Belanja

 x 

Keranjang kosong
Menu [klik disini]

Jangan menggunakan smartphone ketika mengemudi  Awalnya handphone cuma di pake untuk sms dan telpon. Nah, sekarang setelah handphone berubah menjadi smartphone, kebutuhan manusia terhadap smartphone pun mulai bervariasi, mulai dari sms dan telpon, mendengarkan radio, mp3 musik, nonton video, mengurus online shop, chatting, ber sosial media, main game, dan banyak lagi.  Nah karena kemudahan dan fungsi smartphone yang semakin beragam, membuat kita ketergantungan, kapanpun dan dimanapun, smartphone selalu ada dalam genggaman tangan. Tak terkecuali ketika kita sedang mengemudi.   Texting while driving itu berbahaya, gimana kalau menggunakan smartphone sambil mengemudi? Sambil main Pokemon Go misalnya? Ya sama saja, karena pada prinsipnya menggunakan smartphone ketika mengemudi mengganggu konsentrasi pengemudi dan meningkatkan resiko terjadinya kecelakaan lalu lintas yang dapat mencelakai pengendara ataupun orang lain.  Dalam Undang-Undang No 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan pada Pasal 283 menyebutkan: “Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan secara tidak wajar dan melakukan kegiatan lain atau dipengaruhi oleh suatu keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi dalam mengemudi di Jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak Rp750.000,00 (tujuh ratus lima puluh ribu rupiah).”  Sementara pada Pasal 106 ayat (1) Undang-Undang No.22 Tahun 2009 sendiri berisi: “Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan wajib mengemudikan kendaraannya dengan wajar dan penuh konsentrasi.”  Nah, sangat jelas pada kedua Pasal diatas bahwa ketika mengemudi harus mengutamakan konsentrasi dan berkendara secara wajar. Sementara menggunakan smartphone saat mengemudi jelas membuat pengendara menjadi tidak fokus dan hilang konsentrasi yang dapat mengakibatkan kecelakaan.  Penelitian yang dilakukan oleh GHSA (Governors Highway Safety Association), Amerika Serikat, menemukan bahwa menggunakan smartphone pada saat mengemudi merupakan penyebab terbesar terjadinya kecelakaan di jalan raya, hampir 23% kecelakaan disebabkan oleh penggunaan smartphone ketika mengemudi.

 





HEI LO! IYA LO! YANG LIKE, COMMENT & SHARE GAMBAR INI! GW SUMPAHIN LO SEMUA! JADI ORANG SUKSES!





Kapan bicara dan kapan diam





Kamu pasti tahu, untuk menjadi orang yang sukses itu tidak mudah. Kamu harus mau bekerja keras, memiliki kemauan yang kuat, serta bersabar. Pasalnya, sukses tak akan bisa kamu raih hanya dalam sekejap. Semua pasti ada prosesnya.  Masalahnya, tak jarang orang malah melakukan hal-hal yang menjauhkan dirinya dari kesuksesan. Tanpa sadar dia justru melakukan hal yang mendekatkannya dengan kegagalan.   Nah berikut adalah perbedaan karakter antara orang sukses dan orang gagal.  1. Dalam menghadapi masalah  Dalam menghadapi sebuah permasalahan, orang sukses selain memberikan kritikan, mereka juga memberikan solusi yang logis atas setiap masalah yang dihadapi. Namun, orang gagal cenderung hanya memberik kritikan tanpa solusi sama sekali bahkan tidak segan untuk menyudutkan orang lain.  2. Teamwork  Orang sukses senang saling membantu dan bekerja sama dalam mencapai sebuah tujuan, bagi mereka sukses bukan tentang apa yang mereka dapatkan, tetapi apa yang bisa dicapai bersama-sama.  Sementara itu, orang gagal justru cenderung egois, bagi mereka sukses adalah tentang pencapaian pribadi, mereka tidak perduli apa yang mereka korbankan untuk mencapai tujuan pribadi mereka.  3. Dalam menghadapi kegagalan  Sukses tidak diraih dengan mudah, kadang perjalanannya panjang dan berliku. Tidak jarang kesuksesan harus didahului oleh kegagalan yang berulang.  Nah orang sukses ketika menghadapi kegagalan, mereka segera introspeksi diri, karena mereka menyadari bahwa kegagalan datang dari diri mereka sendiri.  Sementara orang gagal, mereka sibuk menyalahkan orang lain tanpa pernah introspeksi diri mereka atas kegagalan yang mereka alami.  4. Yang dibicarakan  Satu hal yang mencolok tentang orang sukses adalah mereka sibuk membicarakan ide/gagasan, sementara orang gagal sibuk bergosip / membicarakan orang lain.  5. Kesalahan orang lain  Orang sukses mampu memaafkan kesalahan orang lain, bagi mereka mengingat-ingat kesalahan orang lain hanyalah buang-buang energi. Sementara orang gagal cenderung menyimpan dendam kepada orang lain.   6. Mindset  Orang sukses sadar bahwa ada banyak hal di dunia ini yang tidak dia ketahui, oleh karenanya orang sukses terus belajar hal-hal baru. Sementara orang gagal, mereka beranggapan mereka tahu segalanya sehingga mereka cenderung malas.  Toh hidup adalah proses belajar yang tidak pernah ada habisnya.  Kesimpulan  Hidup adalah PROSES Hidup adalah BELAJAR tanpa ada batas UMUR tanpa ada kata TUA  JATUH, berdiri lagi KALAH, mencoba lagi GAGAL, bangkit lagi  NEVER STOP NEVER GIVE UP  Sampai Allah SWT berkata:





Anton:





The Problem with the world is  The problem with the world is Masalahnya di dunia ini adalah that the intelligent people are full of doubts, orang-orang pintar dan cerdas selalu ragu-ragu while the stupid ones are full of confidence. sedangkan mereka yang bodoh penuh percaya diri - Charles Bukowski -   Orang-orang pintar atau cerdas ketika merencanakan sesuatu, mereka mempertimbangkan berbagai faktor / variable yang terlibat, ini yang mengakibatkan orang-orang pintar tidak dapat mengeksekusi rencana dengan cepat dan terlihat ragu-ragu.  Sementara orang-orang bodoh biasanya terlalu percaya diri, sehingga terlalu cepat mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan faktor-faktor lainnya.  Efek Dunning–Kruger  Efek Dunning–Kruger adalah suatu bias kognitif ketika seseorang yang tidak memiliki kompetensi mengalami superioritas ilusif, di sisi lain, mereka yang memiliki kompetensi justru tidak percaya diri.  Ketika seseorang yang tidak memiliki kompetensi mengalami superioritas ilusif, artinya ia merasa kemampuannya lebih hebat daripada orang lain pada umumnya. Bias ini diakibatkan oleh ketidakmampuan orang tersebut secara metakognitif untuk mengetahui segala kekurangannya.  Di sisi lain, mereka yang memiliki kompetensi nyata justru tidak percayaan diri, karena orang-orang yang kompeten bisa saja salah mengira bahwa orang lain memiliki pemahaman yang sama.  David Dunning dan Justin Kruger dari Cornell University menyimpulkan bahwa,